Riset Universitas Dwijendra Ungkap Kebutuhan Bahasa Inggris Siswa SMK Pariwisata di Denpasar

Denpasar – Penelitian Universitas Dwijendra mengungkap pentingnya pembelajaran bahasa Inggris yang lebih dekat dengan kebutuhan nyata industri pariwisata bagi siswa SMK di Kota Denpasar. Penelitian berjudul “Dari Kelas ke Industri: Analisis Kebutuhan ESP Bidang Pariwisata untuk Meningkatkan Kompetensi dan Daya Saing Siswa SMK di Denpasar” ini dilakukan untuk memetakan kebutuhan bahasa Inggris siswa sekaligus mengidentifikasi kesenjangan antara pembelajaran di sekolah dan tuntutan komunikasi di dunia kerja. Penelitian melibatkan siswa, guru bahasa Inggris, dan praktisi industri pariwisata dari sejumlah SMK bidang pariwisata di Denpasar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berbicara (speaking) dan mendengarkan (listening) menjadi kompetensi bahasa Inggris yang paling dibutuhkan siswa ketika memasuki industri pariwisata. Siswa dituntut mampu menyambut tamu, memberikan informasi, menerima reservasi, menjelaskan fasilitas, menangani permintaan maupun keluhan pelanggan, serta berkomunikasi dengan wisatawan dari berbagai latar belakang budaya. Namun, penelitian juga menemukan sejumlah kesenjangan, terutama dalam komunikasi spontan, penguasaan kosakata profesional, pronunciation, pemahaman berbagai aksen bahasa Inggris, complaint handling, dan kepercayaan diri dalam berkomunikasi. 

Menariknya, siswa mengharapkan pembelajaran bahasa Inggris yang lebih autentik dan praktis. Mereka menginginkan lebih banyak role play, simulasi pelayanan tamu, studi kasus, praktik dengan penutur asing, serta materi yang berasal dari dunia industri, seperti video pelayanan hotel, percakapan autentik, formulir reservasi, menu restoran, SOP, dan email bisnis. Penelitian juga menemukan bahwa teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) dipandang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih speaking dan listening secara lebih fleksibel di luar kelas. 

Berdasarkan temuan tersebut, tim peneliti merekomendasikan pengembangan pembelajaran English for Specific Purposes (ESP) yang berorientasi pada kebutuhan industri. Pembelajaran perlu memperkuat praktik komunikasi melalui simulasi dan pengalaman kerja, menggunakan bahan ajar autentik, memanfaatkan teknologi digital dan AI, serta memperkuat kolaborasi antara SMK dan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Langkah tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara kompetensi yang diperoleh siswa di kelas dengan kemampuan komunikasi profesional yang dibutuhkan industri pariwisata, sehingga lulusan SMK lebih siap memasuki dunia kerja. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »
Scroll to Top