Tim Peneliti Universitas Dwijendra Teliti Fenomena Campur Kode dalam Interaksi Siswa SMA Negeri 2 Tabanan

Tabanan-Tim peneliti Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Dwijendra melaksanakan penelitian berjudul “Fenomena Campur Kode dalam Interaksi Siswa SMA di SMA Negeri 2 Tabanan: Kajian Sosiolinguistik.” Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu Bulan Mei hingga Juli 2026, dengan melibatkan SMA Negeri 2 Tabanan sebagai mitra penelitian.

Penelitian diketuai oleh I Gusti Ayu Putu Istri Aryasuari, S.S., M.Hum., dengan anggota Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. dan Nyoman Yulio Kardona, S.Pd., M.Pd. Kegiatan penelitian juga melibatkan tiga mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, yaitu Yuliana Icen, Panji Julianta Al-Hadiy, dan Dewiyanti S. Peda. Pelibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk terlibat dalam proses penelitian di lingkungan sekolah.

Pelaksanaan penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari *persiapan dan perizinan penelitian, penyusunan instrumen, pengumpulan data, analisis data, penyusunan laporan, hingga penyusunan artikel ilmiah dan rencana diseminasi hasil penelitian*. Tahapan tersebut dirancang untuk memastikan proses penelitian berlangsung secara sistematis dan menghasilkan data yang relevan dengan tujuan penelitian.

Pada tahap persiapan, tim peneliti melakukan pemantapan rancangan penelitian dan instrumen yang digunakan untuk memperoleh data mengenai praktik kebahasaan siswa. Penelitian memilih SMA Negeri 2 Tabanan karena memiliki karakteristik siswa yang heterogen secara linguistik. Dalam interaksi sehari-hari, siswa menggunakan Bahasa Indonesia, Bahasa Bali, serta bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris. Kondisi multilingual tersebut menjadi lingkungan yang relevan untuk mengkaji fenomena campur kode secara sosiolinguistik.

Tahap berikutnya adalah pengumpulan data. Data primer berupa tuturan siswa yang mengandung fenomena campur kode diperoleh melalui observasi terhadap interaksi siswa, perekaman, kuesioner, pencatatan, dan wawancara. Pengumpulan data dilakukan dengan memperhatikan interaksi siswa baik dalam situasi formal maupun informal di lingkungan sekolah. Wawancara semi-terstruktur juga dilakukan untuk menggali alasan, fungsi, dan faktor yang memengaruhi penggunaan campur kode.

Setelah data terkumpul, tim peneliti melakukan analisis data secara deskriptif kualitatif. Proses analisis meliputi reduksi data, klasifikasi, analisis, interpretasi, dan penarikan simpulan. Data kemudian diklasifikasikan berdasarkan bentuk campur kode serta dianalisis berdasarkan fungsi, faktor penyebab, dan konteks sosial penggunaannya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa campur kode merupakan bagian dari praktik komunikasi siswa SMA Negeri 2 Tabanan. Berdasarkan satuan linguistiknya, ditemukan tiga bentuk campur kode, yaitu penyisipan kata, penyisipan frasa, dan penyisipan klausa. Bentuk yang paling dominan adalah penyisipan kata, baik yang berasal dari Bahasa Bali maupun Bahasa Inggris. Beberapa contoh penyisipan unsur Bahasa Bali yang ditemukan antara lain astungkara, suud, aget, kaden, dan nok. Sementara itu, unsur Bahasa Inggris juga muncul dalam tuturan siswa, seperti penggunaan kata sorry. Selain penyisipan kata, ditemukan pula penggunaan frasa Bahasa Inggris seperti to the point, on the way, dan plot twist, serta sejumlah frasa Bahasa Bali dalam percakapan antarsiswa.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan menggunakan lebih dari satu bahasa secara fleksibel. Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama dalam banyak interaksi, sementara unsur Bahasa Bali dan Bahasa Inggris disisipkan sesuai dengan kebutuhan dan konteks komunikasi. Penelitian juga menunjukkan bahwa campur kode tidak semata-mata merupakan penyimpangan dari penggunaan Bahasa Indonesia. Dalam interaksi antarsiswa, campur kode memiliki sejumlah fungsi sosial dan komunikatif.

Fungsi yang paling dominan adalah menciptakan keakraban dan suasana komunikasi yang santai. Siswa lebih sering menggunakan campur kode ketika berinteraksi dengan teman sebaya dibandingkan ketika berkomunikasi dengan guru atau pihak sekolah. Campur kode juga digunakan untuk mempermudah penyampaian maksud dan perasaan, menyesuaikan bahasa dengan latar belakang mitra tutur, serta menunjukkan identitas remaja yang dekat dengan budaya populer dan media digital.

Dari sisi faktor penyebab, penelitian menemukan beberapa faktor yang memengaruhi munculnya campur kode, antara lain kebiasaan kebahasaan dan latar belakang Bahasa Bali sebagai bahasa pertama, lingkungan pertemanan, pengaruh media sosial dan budaya populer, heterogenitas latar belakang kebahasaan mitra tutur, serta kemudahan akses terhadap kosakata tertentu ketika berkomunikasi secara spontan. Salah satu temuan penting penelitian adalah adanya kemampuan siswa dalam menyesuaikan pilihan bahasa berdasarkan konteks sosial. Campur kode lebih banyak ditemukan dalam situasi informal, seperti ketika jam istirahat, di kantin, atau ketika berada di kelas pada saat jam kosong. Sebaliknya, penggunaannya cenderung berkurang ketika siswa berinteraksi dengan guru atau kepala sekolah, melakukan presentasi, mengikuti upacara, maupun berada dalam kegiatan resmi sekolah.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa siswa tidak menggunakan campur kode secara sembarangan. Pilihan bahasa berkaitan dengan siapa mitra tutur, situasi komunikasi, serta tujuan interaksi. Dengan demikian, praktik campur kode dapat dipahami sebagai bagian dari kompetensi komunikatif siswa dalam lingkungan sekolah yang multilingual.

Hasil penelitian ini memberikan kontribusi tidak hanya bagi pengembangan kajian Sosiolinguistik, tetapi juga bagi pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Fenomena campur kode yang ditemukan dapat menjadi bahan bagi guru untuk merancang pembelajaran yang lebih kontekstual dan dekat dengan realitas kebahasaan siswa. Tim peneliti merekomendasikan agar sekolah dan guru Bahasa Indonesia meningkatkan kesadaran dan kepekaan kebahasaan siswa sehingga siswa mampu membedakan penggunaan bahasa berdasarkan konteks formal dan informal. Pembinaan Bahasa Indonesia baku tetap perlu dilakukan dalam situasi akademik dan resmi, tetapi tetap perlu mempertimbangkan keberadaan Bahasa Bali sebagai bahasa daerah serta kreativitas komunikasi siswa dalam situasi informal.

Penelitian yang dilaksanakan di SMA Negeri 2 Tabanan ini diharapkan menghasilkan luaran akademik berupa artikel ilmiah untuk jurnal nasional terakreditasi, prosiding seminar nasional, serta rekomendasi praktis bagi guru dan sekolah. Hasil penelitian juga berpotensi dikembangkan menjadi bahan ajar atau modul pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual.

Pelaksanaan penelitian selama Mei–Juli 2026 ini menjadi salah satu bentuk kontribusi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Dwijendra dalam mengembangkan penelitian kebahasaan yang berorientasi pada persoalan nyata di lingkungan pendidikan. Selain menghasilkan temuan akademik, kegiatan ini juga memberikan pengalaman penelitian kepada mahasiswa serta memperkuat hubungan kemitraan antara perguruan tinggi dan sekolah.

Melalui penelitian ini, tim peneliti berharap kajian mengenai dinamika penggunaan bahasa di kalangan generasi muda dapat terus dikembangkan sehingga memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu Sosiolinguistik sekaligus mendukung pembelajaran Bahasa Indonesia yang adaptif terhadap perubahan sosial dan perkembangan komunikasi generasi muda.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »
Scroll to Top