
Tabanan – Kemampuan berbicara di depan publik tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga keterampilan berkomunikasi, sikap percaya diri, serta karakter yang mampu mencerminkan nilai-nilai budaya. Hal inilah yang menjadi fokus Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Dwijendra melalui kegiatan “Pelatihan Public Speaking Berbasis Tri Hita Karana: Meningkatkan Kompetensi Komunikatif dan Karakter Siswa” di SMK Negeri 1 Tabanan. Kegiatan yang dilaksanakan oleh tim PkM dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Dwijendra ini melibatkan 38 siswa. Pelatihan dirancang tidak sekadar mengajarkan teknik berbicara di depan umum, tetapi juga membangun keberanian, kemampuan berinteraksi, serta karakter siswa melalui pengintegrasian nilai-nilai Tri Hita Karana.
Public speaking menjadi salah satu kompetensi penting bagi siswa untuk menghadapi dunia pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sosial. Namun, kemampuan tersebut tidak selalu berkembang tanpa adanya kesempatan untuk berlatih secara langsung. Melalui kegiatan ini, siswa mendapatkan pengalaman belajar yang bersifat partisipatif, edukatif, dan praktis. Materi diberikan melalui pemaparan, diskusi, simulasi, praktik berbicara, evaluasi, serta refleksi. Siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diberi kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung berbagai aspek public speaking, seperti intonasi, artikulasi, volume suara, kontak mata, bahasa tubuh, serta penyusunan materi secara sistematis.

Ketua tim PkM, I Gusti Ayu Putu Istri Aryasuari, S.S., M.Hum., menegaskan bahwa public speaking perlu dipandang sebagai keterampilan yang harus dilatih secara berkelanjutan sekaligus sebagai sarana pembentukan karakter.
“Public speaking bukan hanya persoalan mampu berbicara di depan orang lain, tetapi juga bagaimana siswa mampu menyampaikan gagasan dengan percaya diri, santun, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab terhadap apa yang disampaikan. Karena itu, nilai-nilai Tri Hita Karana kami integrasikan dalam proses pelatihan” ungkapnya.
Keunikan pelatihan ini terletak pada pengintegrasian keterampilan komunikasi dengan nilai-nilai kearifan lokal Bali, yaitu Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan. Nilai Parahyangan diarahkan pada pembentukan sikap santun, etis, dan menghargai orang lain dalam berkomunikasi. Sementara itu, Pawongan diwujudkan melalui kemampuan bekerja sama, menunjukkan empati, memberikan respons positif, serta menghargai lawan bicara. Adapun nilai Palemahan ditanamkan melalui kepedulian terhadap lingkungan belajar agar tetap tertib, bersih, dan nyaman selama proses kegiatan berlangsung. Dengan pendekatan tersebut, public speaking tidak berhenti pada kemampuan teknis berbicara, tetapi berkembang menjadi keterampilan komunikasi yang berlandaskan karakter dan nilai budaya.

Efektivitas kegiatan juga terlihat dari hasil evaluasi yang dilakukan melalui pre-test dan post-test. Berdasarkan hasil evaluasi terhadap 38 peserta, rata-rata nilai pre-test sebesar 55,79, kemudian meningkat menjadi 85,53 pada post-test. Dengan demikian, terdapat peningkatan sebesar 29,74 poin setelah siswa mengikuti rangkaian pelatihan.
Selain peningkatan secara akademik, tim PkM juga mengamati perkembangan keterampilan praktis siswa. Peserta menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mengatur intonasi, artikulasi, volume suara, bahasa tubuh, kontak mata, serta menyampaikan materi secara lebih sistematis. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman praktik secara langsung menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan diri siswa ketika berbicara di depan orang lain.
Meskipun secara umum tujuan kegiatan telah tercapai, tim PkM mencatat bahwa beberapa siswa masih memerlukan latihan berkelanjutan, khususnya dalam mengendalikan rasa gugup dan meningkatkan kelancaran berbicara. Karena itu, sekolah diharapkan dapat melanjutkan kegiatan public speaking melalui pembelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler. Siswa juga didorong untuk terus berlatih dan menerapkan nilai-nilai Tri Hita Karana dalam komunikasi sehari-hari.
Bagi Universitas Dwijendra, kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan kompetensi siswa di sekolah. Ke depan, kegiatan pendampingan dan pelatihan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan sekaligus memperluas kerja sama antara Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Dwijendra dengan sekolah-sekolah mitra. Melalui sinergi perguruan tinggi dan sekolah, keterampilan komunikasi siswa diharapkan semakin kuat, sekaligus tetap berpijak pada karakter dan kearifan lokal Bali.