
Denpasar, 8 Agustus 2026 – Program Studi Industri Perjalanan, Fakultas Dharma Duta, Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menyelenggarakan Kuliah Umum secara daring pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Kegiatan mengangkat tema “Literasi Digital dan Karya Sastra sebagai Media Promosi Pariwisata Berkelanjutan” dengan menghadirkan narasumber utama Dr. Ida Bagus Made Wisnu Parta, S.S., M.Hum., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Dwijendra.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Ida Bagus Made Wisnu Parta membawakan materi bertajuk “LITERARY TOURISM: TRANSFORMASI KARYA SASTRA MENJADI DAYA TARIK WISATA BERKELANJUTAN.” Materi ini mengajak mahasiswa untuk melihat karya sastra tidak hanya sebagai produk budaya dan karya estetis, tetapi juga sebagai sumber narasi yang memiliki potensi besar dalam pengembangan dan promosi destinasi pariwisata.
Kegiatan Kuliah Umum dibuka oleh Ni Komang Sudarningsih, S.Ag., M.Pd.H., selaku Ketua Program Studi Industri Perjalanan, yang didampingi Dr. Ida Ayu Kartika Maharani, S.E., M.M., selaku Sekretaris Program Studi Industri Perjalanan Fakultas Dharma Duta UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.

Dalam sambutannya, Ni Komang Sudarningsih menyampaikan bahwa perkembangan industri pariwisata membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu memahami kekuatan budaya, literasi, komunikasi, dan teknologi digital sebagai bagian dari strategi pengembangan destinasi.
Sementara itu, dalam pemaparannya, Dr. Ida Bagus Made Wisnu Parta menekankan bahwa literary tourism atau pariwisata sastra merupakan salah satu bentuk inovasi dalam menghubungkan karya sastra, budaya, sejarah, dan pengalaman wisata. Karya sastra dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan suatu tempat melalui cerita, tokoh, latar, tradisi, nilai budaya, serta berbagai pengalaman yang terkandung di dalamnya.
“Karya sastra bukan sekadar teks yang dibaca, tetapi juga dapat menjadi teks budaya yang menghidupkan sebuah destinasi. Ketika cerita, tempat, budaya, dan teknologi digital dipadukan secara kreatif, karya sastra dapat ditransformasikan menjadi daya tarik wisata yang memberikan pengalaman sekaligus memperkuat identitas destinasi,” ungkap Dr. Ida Bagus Made Wisnu Parta.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa era digital telah mengubah cara wisatawan mencari informasi, menentukan destinasi, serta membagikan pengalaman perjalanan. Kondisi tersebut membuka ruang yang luas bagi karya sastra untuk dikemas dalam berbagai bentuk media digital, seperti konten media sosial, video pendek, podcast, buku digital, virtual tour, storytelling, hingga kampanye promosi destinasi.
Menurutnya, narasi yang kuat dapat memberikan nilai tambah bagi sebuah destinasi karena wisatawan tidak hanya datang untuk melihat tempat, tetapi juga ingin mengetahui cerita di balik tempat tersebut. Dengan demikian, promosi pariwisata tidak berhenti pada penyajian gambar dan informasi teknis, tetapi mampu menghadirkan pengalaman emosional dan intelektual bagi calon wisatawan.
Dalam konteks pariwisata berkelanjutan, pemanfaatan karya sastra juga dapat menjadi strategi untuk memperkuat pelestarian budaya lokal. Cerita rakyat, legenda, kakawin, geguritan, lontar, novel, puisi, maupun berbagai bentuk karya sastra lainnya dapat dikembangkan menjadi sumber narasi destinasi dengan tetap memperhatikan keaslian, etika, nilai budaya, dan keterlibatan masyarakat lokal.
“Pariwisata berkelanjutan membutuhkan narasi yang berkelanjutan pula. Kita tidak cukup hanya menjual keindahan destinasi, tetapi perlu menceritakan nilai, sejarah, identitas, dan kearifan lokal yang menjadi jiwa dari destinasi tersebut,” tambahnya.
Kuliah Umum ini juga memberikan wawasan kepada mahasiswa Industri Perjalanan mengenai pentingnya membangun kompetensi lintas bidang. Industri pariwisata masa kini tidak hanya membutuhkan kemampuan dalam pengelolaan perjalanan dan destinasi, tetapi juga membutuhkan kemampuan literasi digital, komunikasi, storytelling, kreativitas, pemahaman budaya, dan produksi konten.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang akademik untuk mempertemukan perspektif pendidikan bahasa dan sastra dengan industri perjalanan. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat melahirkan gagasan-gagasan kreatif dalam pengembangan produk wisata berbasis budaya dan sastra yang inovatif, edukatif, serta berorientasi pada keberlanjutan.
Implementasi MoA dan IA
Pelaksanaan Kuliah Umum ini merupakan bagian dari implementasi Memorandum of Agreement (MoA) yang telah dibuat antara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Dwijendra dengan Fakultas Dharma Duta UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
Selain itu, kegiatan ini menjadi bentuk implementasi Implementation Agreement (IA) antara Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Dwijendra dengan Program Studi Industri Perjalanan Fakultas Dharma Duta UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
Kerja sama tersebut menjadi wujud nyata komitmen kedua institusi dalam memperkuat kolaborasi akademik, khususnya melalui kegiatan pendidikan, pengembangan kompetensi mahasiswa, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan gagasan inovatif yang relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan dan industri pariwisata.
Melalui kegiatan ini, kedua program studi diharapkan dapat terus membangun sinergi dalam menghasilkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki kepekaan terhadap budaya, serta mampu mengembangkan potensi literasi dan karya sastra sebagai bagian dari ekosistem pariwisata berkelanjutan.
Kuliah Umum ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mendalami konsep literary tourism, strategi pengemasan karya sastra sebagai narasi destinasi, pemanfaatan media digital dalam promosi pariwisata, serta tantangan menjaga keberlanjutan budaya di tengah perkembangan industri pariwisata digital.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi lahirnya berbagai inovasi produk dan promosi wisata berbasis sastra dan budaya. Dengan mengintegrasikan literasi digital, karya sastra, kekayaan budaya, kreativitas, dan prinsip pariwisata berkelanjutan, destinasi wisata Indonesia dapat dikembangkan tidak hanya sebagai tempat untuk dikunjungi, tetapi juga sebagai ruang untuk membaca, mengalami, memahami, dan menghidupkan kembali cerita serta identitas budaya masyarakatnya.